Cara Menilai Perusahaan di Bawah Nilai Intrinsiknya dalam Value Investing (Dengan Contoh Saham BBRI)
Cara Menilai Perusahaan di Bawah Nilai Intrinsiknya dalam Value Investing (Dengan Contoh Saham BBRI - 27 Maret 2025 )
Salah satu prinsip utama dalam Value Investing adalah membeli saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Artinya, investor mencari saham yang dihargai lebih rendah dari nilai fundamentalnya, sehingga memiliki peluang apresiasi harga di masa depan.
Lalu, bagaimana cara menilai apakah sebuah saham dihargai lebih rendah dari nilai intrinsiknya?
Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 metode valuasi saham yang umum digunakan dalam Value Investing, yaitu:
- Discounted Cash Flow (DCF)
- Earnings Power Value (EPV)
- Graham Number
- Price-to-Book (P/B) Ratio
- Price-to-Earnings (P/E) Ratio
Sebagai contoh, kita akan menerapkan metode ini pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) untuk melihat apakah saat ini sahamnya undervalued atau overvalued.
1. Metode Discounted Cash Flow (DCF)
DCF menghitung nilai intrinsik saham berdasarkan proyeksi arus kas masa depan yang didiskon ke nilai saat ini.
Rumus DCF:
- FCF = Free Cash Flow per tahun
- WACC = Weighted Average Cost of Capital
- TV = Terminal Value
Perhitungan DCF untuk BBRI
- FCF tahun 2024: Rp50 triliun
- Tingkat pertumbuhan FCF: 5% per tahun
- WACC: 10%
- Tingkat pertumbuhan jangka panjang: 3%
- Jumlah saham beredar: 150 miliar
Setelah melakukan perhitungan DCF, diperoleh nilai intrinsik per saham BBRI = Rp5.372.
Kesimpulan DCF
- Harga saham BBRI saat ini = Rp4.220
- Saham BBRI undervalued berdasarkan metode DCF
2. Metode Earnings Power Value (EPV)
EPV menghitung nilai intrinsik berdasarkan laba saat ini tanpa memperhitungkan pertumbuhan.
Rumus EPV:
- NOPAT = Net Operating Profit After Tax
Perhitungan EPV untuk BBRI
- Laba operasi (EBIT): Rp70 triliun
- Pajak: 25%
- NOPAT = Rp70 triliun × (1 - 25%) = Rp52,5 triliun
- WACC = 10%
- EPV = Rp52,5 triliun / 10% = Rp525 triliun
- Nilai intrinsik per saham = Rp525 triliun / 150 miliar = Rp3.500
Kesimpulan EPV
- Harga saham BBRI saat ini = Rp4.220
- Saham BBRI overvalued berdasarkan metode EPV
3. Metode Graham Number
Metode Graham Number dikembangkan oleh Benjamin Graham untuk mencari harga wajar saham berdasarkan EPS dan BVPS.
Rumus Graham Number:
Perhitungan Graham Number untuk BBRI
- EPS = Rp300
- BVPS = Rp2.000
- Graham Number = √(22,5 × 300 × 2.000) = √(Rp13.500.000) = Rp3.674
Kesimpulan Graham Number
- Harga saham BBRI saat ini = Rp4.220
- Saham BBRI overvalued berdasarkan metode Graham Number
4. Price-to-Book (P/B) Ratio
P/B Ratio membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham.
Rumus P/B Ratio:
Perhitungan P/B Ratio untuk BBRI
- BVPS = Rp2.000
- P/B Ratio = Rp4.220 / Rp2.000 = 2,11
Kesimpulan P/B Ratio
- Industri perbankan umumnya memiliki P/B antara 1,5 - 2,5
- BBRI berada di kisaran wajar
5. Price-to-Earnings (P/E) Ratio
P/E Ratio membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham (EPS).
Rumus P/E Ratio:
Perhitungan P/E Ratio untuk BBRI
- EPS = Rp300
- P/E Ratio = Rp4.220 / Rp300 = 14,07
Kesimpulan P/E Ratio
- Rata-rata industri perbankan 12 - 15
- BBRI berada di kisaran wajar
Kesimpulan dari Semua Metode
- 1 metode (DCF) menyebut undervalued
- 2 metode (EPV & Graham Number) menyebut overvalued
- 2 metode (P/B & P/E) menyebut fair value
Kesimpulan Akhir
BBRI saat ini lebih condong ke zona FAIR VALUE atau sedikit overvalued.
Investor yang ingin masuk bisa:
✅ Menunggu koreksi harga ke Rp3.500 - Rp3.700 agar lebih aman.
✅ Jika sudah memiliki saham, bisa hold karena valuasi masih wajar.
✅ Bisa menggunakan strategi buy on weakness atau DCA.
Kenapa Hasil Setiap Metode Berbeda?
- DCF optimis karena mempertimbangkan pertumbuhan jangka panjang.
- EPV & Graham Number konservatif dan hanya melihat laba & nilai buku saat ini.
- P/B & P/E membandingkan dengan rata-rata industri, bukan nilai intrinsik sebenarnya.
Bagaimana Menyikapinya?
✅ Jika ingin aman, gunakan harga terendah dari metode valuasi.
✅ Kombinasikan metode yang berbeda untuk mendapatkan gambaran lebih jelas.
✅ Jangan hanya mengandalkan satu metode, perhatikan juga kondisi pasar dan ekonomi.
Itulah cara menilai apakah suatu saham berada di bawah nilai intrinsiknya! Jika ingin lebih dalam mempelajari Value Investing, pastikan untuk selalu menggunakan kombinasi beberapa metode agar hasil analisis lebih akurat.
Comments
Post a Comment